Negeri Para Komentator

Membaca surat kabar pada hari-hari belakangan ini sering membuat hati merasa jengah.  Mayoritas berita isinya mengabarkan hal buruk yang terjadi di negeri ini. Mulai dari masalah KKN, rebutan kekuasaan, bencana alam, meningkatnya kemiskinan dan kriminalitas, hingga terorisme. Jarang sekali dimuat berita yang menyejukkan hati.

Banyak masalah yang harus dibenahi ini tentu membutuhkan masukan dan solusi dari berbagai pihak. Namun, masukan itu tentunya dari pihak yang memang ahlinya, dengan cara yang santun (baca: sesuai aturan syar’i), bukan dari orang yang hanya asal pandai berbicara dan menkritik. Bak jamur di musim hujan, sayangnya justru orang yang asal pandai menkritik inilah yang semakin hari semakin banyak di negeri ini. Mereka saling mengkritik, bahkan saling menghujat. Semua pendapat dikeluarkan tanpa memikirkan apakah pendapat itu bersifat membangun atau malah merusak. Yang penting bagaimana caranya supaya dirinya bisa disebut sebagai komentator yang ahli.

Menjadi komentator jelas tidak mempunyai beban yang terlalu berat jika dibandingkan dengan menjadi pelaku. Ketika menjadi komentator, seseorang bisa berbicara dengan lugas, tapi ketika menjadi pemikul amanah, tentu tidak mudah melaksanakan tugas-tugasnya. Tak banyak orang yang mau menjadi pelaku, saat sebelumnya dikenal sebagai komentator. Mereka khawatir tidak mampu membuat solusi seperti yang selama ini mereka suarakan.

Para komentator ini bukan hanya mereka yang muncul di televisi, tetapi juga ada hingga level rumah tangga. Kita sering melihat orangtua yang menasihati anaknya agar rajin belajar dan shalat tepat waktu, namun dianya sendiri mengabaikan suara adzan dan malah asyik menonton televisi dengan suara keras ketika anaknya sedang belajar di malam hari.

Ya, inilah suasana Indonesia sekarang, negeri para komentator, negeri yang memiliki banyak orang yang pintar berbicara tetapi jarang bertindak memberikan solusi yang nyata.

* * * * *

Pembaca yang dirahmati Allah ‘Azza Wa Jalla…
Melakukan koreksi dan kritik merupakan hal yang baik apabila itu didasari dengan ilmu dan dengan penyampaian yang tepat. Namun ketika kebanyakannya hanya mengkritik, tentu tidak ada buah yang bisa dipetik. Memang negeri kita saat ini sedang menghadapi berbagai permasalahan yang berat. Namun apakah dengan serapah kita dapat menyelesaikan masalah ?
Coba lihat kondisi sekarang. Semua pihak saling bersuara menuntut pemerintah harus bertanggung jawab atas semua masalah ini. Demonstrasi-demonstrasi pun digelar dengan agenda yang sama:
Pemerintah ini tidak tegas! Tidak becus dalam mengurusi negara! Ganti pemimpin sekarang juga!

Wah, ide mengganti pemerintah? Masyarakat kita sudah terlalu capek gonta-ganti pemerintah. Sengketa pilkada saja sudah merugikan semua pihak. Mengganti pemerintahan jelas tidak akan menyelesaikan masalah.
Lalu apa yang bisa kita lakukan bagi negeri ini?

Pembaca yang dirahmati Allah..
Kita bisa memperbaiki negeri ini dengan aksi nyata, melakukan apa yang kita bisa bagi masyarakat kita, sekecil apapun itu. Bagi para pegawai, jadilah pegawai yang jujur dan amanah, berusaha bekerja semaksimal mungkin. Bagi para pemuda, jadilah pemuda yang tekun dalam menuntut ilmu sehingga bisa membantu masyarakat sekitar dengan ilmu yang dimiliki. Bagi para orangtua, jadilah teladan, didiklah putra-putri anda menjadi putra-putri yang shalih dan shalihah.
Kita tidak perlu muluk-muluk. Minimal dengan mendukung dan melaksanakan program-program pemerintah yang ada (yang tidak bertentangan dengan agama), tidak mengacak-acak usaha pembangunan yang dilakukan pemerintah, itu saja sudah cukup memberikan satu langkah perbaikan bagi negeri ini. Kita harus turut andil membangun kepercayaan masyarakat kepada pemerintah, agar pemerintah dan masyarakat bisa kompak dan bekerja sama membangun negeri ini. Kesalahan dan keburukan pemerintah jangan dijadikan sebagai senjata untuk menjatuhkan kewibawaannya.

Padahal, yang paling mudah, sudahkah kita mendoakan pemerintah kita agar menjadi lebih baik? Wah, kita sendiri mungkin jarang mendoakan kebaikan untuk diri kita, apalagi untuk pemerintah. Atau selama ini kita hanya pernah mencaci maki dan mendoakan keburukan untuk pemerintah kita? Mulai hari ini, marilah kita mendoakan agar mereka dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan mendapat bimbingan Allah Ta’ala.

Yang terakhir dan yang terpenting, bahwa suatu negeri hanya bisa maju jika Allah “Azza Wa Jalla menurunkan berkah di atasnya. Dan berkah itu hanya bisa didapatkan apabila nilai-nilai di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah diamalakn dalam segala sisi kehidupan kita masing-masing. Jika nilai-nilai ketakwaan ini kita patri dalam diri-diri kita, niscaya negeri ini akan menjadi negeri yang adil dan makmur, yang selalu dinaungi barakah Allah ‘Azza Wa Jalla.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami anugerahkan kepada (kehidupan) mereka barakah dari langit dan bumi.” [QS. Al-A'raf:96].

Pembaca yang dirahmati Allah “Azza Wa Jalla…
Janganlah kita hanya sibuk berkomentar dan saling menjatuhkan. Marilah kita semua introspeksi diri-diri kita. Apa saja yang sudah kita berikan bagi lingkungan kita? Apa saja yang sudah kita sumbangkan bagi negeri kita? Dan apa yang sudah kita perjuangkan bagi agama kita? Apabila kita bisa introspeksi diri kita masing-masing, maka akan lahir semangat untuk saling berbagi memberikan yang terbaik bagi orang lain, yang dengannya negeri ini lambat laun akan semakin baik.

Semoga Allah ‘Azza Wa Jalla memudahkan kita menjadikan negeri ini semakin baik di bawah naungan berkah-Nya. Wallahu A’lam Bish Showab.

Majalah Tashfiyah Edisi 11 vol 01 1433H-2011M


Saturday, April 5, 2014
Posted by Darul Arqom

MASA MUDA..


Seringkali kita mengkhianati suara hati.Memilih berdusta.Padahal hati kita adalah sebentuk daging lembut, yang oleh Allah ditumbuhkan fitrah di sana. Fitrah adalah rasa cinta kepada kebaikan, rasa selalu sayang dengan kebenaran dan ketaatan.Fitrah ini selalu ada pada hati manusia sejahat apapun dirinya. Tentu saja, kecuali pada hati orang-orang yang memang Allah telah jauhkan dia dari kasih sayang-Nya..Maka seringkali ketika kita berbuat kesalahan dengan sengaja, kita tahu bahwa ini adalah saat kita bermaksiyat kepada Allah.Kita paham benar ketika kita melalaikan kewajiban kita itu artinya kita sedang berjalan menuju lereng-lereng kebinasaan yang terjal. Lembah kehancuran yang bisa jadi setiap saat menjatuhkan kita dan terbentur-bentur cadasnya di setiap tebingnya..Aduhai, hati kita terusik karenanya.Kita menjadi resah dan risau.
Sahabat, saat ini kita punya masa muda. Kelak ketika kita telah melintasinya, di ujung jalan masa muda itu baru akan tumbuh penyesalan. Maka sekaranglah saatnya berbuat.Mengisi masa muda dengan berbagai kesibukan yang bermanfaat. Belajar bahasa Arab, menghapal Al Quran, banyak membaca buku, membekali diri dengan ilmu pengetahuan yang berfaedah, dan seterusnya.. Atau kalian ingin seperti anak-anak jalanan di lampu merah..?! Wajah-wajah kelam yang tak terbias darinya cahaya ketaatan..?! Atau..Seperti anak-anak yang selalu meluangkan waktunya untuk jalan-jalan, untuk makan-makan, sibuk dengan hape dan androidnya. Masyaallah.. Jangaaaaan yaaaaa..Mungkin kalian lihat saat ini mereka bahagia. Tertawa tertiwi dengan teman-temannya tanpa rasa jengah dan kuatir akan masa depan mereka. Itu semua bukan kebahagiaan hakiki Sahabatku..Sama sekali bukan. Lihat apa yang mereka tulis, apa yang mereka alami. Mereka adalah remaja-remaja galau yang tidak terbimbing dengan sinaran pelita syariat.Mereka jauh dari ilmu dan ketaatan. Hatimereka selalu gundah dirundung gelisah..Mereka adalah anak-anak yang meyatimkan dirinya sendiri dari teduhnya bimbingan syariat. Kosong dari hangatnya dekapan Al Quran dan sunnah nabawiyah.
Kalian yang saat ini memiliki kesehatan, harta, waktu luang, dan masih juga bernafas, berbuatlah dengan itu semua.Kesehatan baru terasa berharga ketika kita sakit. Betapapun sedikitnya harta baru akan terasa sangat berharga saat kita jatuh miskin. Waktu luang baru terasa tak ternilai harganya saat kita dikejar dengan kesibukan dan sempitnya waktu kita..Hanya kehidupan yang belum bisa kita sesali, karena kita memang belum pernah mati. Kiranya, kehidupan itu baru akan terasa sangat berharga, kelak ketika ruh hendak berhijrah. Saat hendak berpisahnya raga dengan nyawa.. Tahukah kalian, bahwa saat itulah seorang hamba berada pada titik nadir penyesalannya..?! Ah, mengapa ketika hidup kemarin tidak beramal.
Mengapa ketika nafas masih berhembus kemarin tidak menuntut ilmu sebagai bekal hadapi dahsyatnya ujian menjelang ajal. Mengapa ketika jantung masih berdegup dahulu hanya sibuk dengan dunia dan bersenang-senang..?! Aduhai, kini hanya punya setumpukan rasa sesal. Sekiranya bisa sekejap saja kembali menghirup nafas di kehidupan dunia, niscaya aku akan sujud barang sekali untuk bertaubat kepada Allah, mengemis ampunan-Nya.Allah berfirman, yang artinya 
“Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku ke dunia. Agar aku bisa berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.”Sekali-kali tidak.Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja.Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan..” (Al Quran Surat Al Mu’minun : 99 – 100)
majalah tashfiyah edisi 31
Friday, March 28, 2014
Posted by Darul Arqom
Tag :

Syarat-syarat pengajar yang sukses dalam pendidikan dan pengajaran

Kiat Sukses Mendidik Anak

1.Seorang pengajar hendaknya mahir dalam bidangnya, mampu menciptakan metode-metode pengajarannya, mencintai tugas dan para pelajar, mencurahkan kesungguh-sungguhannya untuk pendidikan mereka dengan pendidikan yang baik, membekali mereka dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat, mengajarkan akhlaq yang mulia, dan berusaha menjauhkan para pelajar dari adat-adat yang jelek. Dialah pendidik sekaligus pengajar pada satu waktu.
2.Seorang pengajar adalah panutan yang baik bagi yang lain, baik dalam ucapan, amalan dan perilakunya dari sisi pelaksanaan kewajibannya kepada Rabbnya, umatnya dan para pelajarnya. Mencintai kebaikan untuk mereka sebagaimana dia mencintainya untuk diri dan anak-anaknya, suka memaafkan dan lapang dada serta apabila menghukum dengan kasih sayang.

3.Termasuk syarat pengajar yang sukses adalah mengerjakan apa yang dia perintahkan kepada para pelajar dari adab, akhlaq, dan ilmu-ilmu yang lainnya, dan hendaknya menjauhi perbedaan antara ucapan dan perbuatannya.
Berkata penyair:
Wahai seorang yang mengajari selainnya dirinya
Tidakkah engkau menjadi pengajar untuk dirimu sendiri

4.Wajib bagi pengajar untuk mengetahui bahwa tugasnya itu seperti tugasnya para nabi yang Allah Ta’ala telah mengutus mereka memberikan hidayah kepada manusia dan mengajari mereka, mengenalkan Rabb mereka, pencipta mereka. Demikian pula dia sebagai bapak dalam hal kasih saying kepada para pelajar, mencintai mereka dan dia bertanggung jawab terhadap para pelajar tentang kehadiran mereka, memberikan perhatian terhadap pelajaran-pelajaran mereka, bahkan bagus seandainya pengajar membantu memecahkan permasalan-permasalahan mereka dan selainnya yang termasuk tanggung jawab pengajar.
Hendaknya pengajar mengetahui bahwa dia bertanggungjawab di hadapan Allah Ta’ala terhadap para pelajarnya apa yang telah dia ajarkan kepada mereka. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan masing-masing kalian akan bertanggungjawab terhadap yang dipimpin.”(Muttafaqun ‘alaih)

5.Sesungguhnya pengajar berdasarkan pekerjaannya ini hidup di antara pelajar yang berbeda-beda tingkatan akhlak mereka, pendidikan dan kecerdasan mereka. Oleh sebab itu wajib baginya untuk bisa menerima mereka semua dengan akhlak-akhlaknya, sehingga dia bagi para pelajar seperti kedudukan bapak dengan anak-anaknya sebagai pengemalan terhadap perkataan guru besar nabi kita Muhammad shallallahu’alaihi wasallam:
“Hanyalah aku bagi kalian seperti kedudukan bapak, aku mengajari kalian.”(HR. Ahmad dan Abu Dawud)
6.Wajib atas pengajar yang berhasil untuk tolong-menolong dengan teman-temannya, menasehati mereka dan bermusyawarah bersama mereka tentang kemaslahatan para pelajar agar para pengajar menjadi suri teladan yang baik bagi para pelajar mereka. Dan wajib pula atas mereka para pengajar untuk mencontoh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.
7.Tawadhu’ dalam ilmu. Mengakui kebenaran adalah keutamaan, kembali kepada kebenaran adalah lebih baik dari pada terus menerus dalam kesalahan, sehingga seorang pengajar seharusnya meneladani shalafus shalih dalam mencari kebenaran dan tunduk kepada kebenaran apabila jelas bagi mereka bahwasannya yang benar tidak seperti yang mereka fatwakan atau yakini. Dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah yang disebutkan Ibnu Abi Hatim dalam kitabnya (Muqoddimah Al-Jarhu wat Ta’dil) ketika beliau menyebutkan kisahnya Malik dan rujuknya beliau dari fatwanya ketika mendengar sebuah hadits, beliau sebutkan dengan judul: Bab ‘Apa yang disebutkan tentang ittiba’nya Malik terhadap atsar Nabi shallallahu’alaihi wasallam dan penarikan fatwanya ketika disampaikan hadits dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam yang menyelisihinya.

8.Jujur dan memenuhi janji. Seorang pengajar harus jujur dalam ucapannya, karena kejujuran itu semuanya adalah kebaikan dan jangan mendidik pelajarnya dengan kedustaan walaupun dalam hal itu ada maslahat yang Nampak baginya.
Jujur adalah akhlak yang agung yang seharusnya seorang pengajar menanamkannya kepada para pelajar, dan menjadikan mereka cinta kepada kejujuran dan membiasakan mereka dengannya, dan hendaknya seorang pengajar selalu jujur dalam ucapan dan perbuatannya, walaupun ketika bergurau bersama pelajar harus tetap jujur. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pernah bergurau tetapi beliau tidak mengatakan kecuali kebenaran. Hendaknya seorang pengajar menjauhi dusta terhadap pelajar walaupun bergurau dan menta’wil. Apabila menjanjikan kepada pelajar dengan sesuatu maka harus dipenuhi sehingga mereka belajar kejujuran dari pengajar tersebut, dan harus dipenuhi baik ucapan ataupun amalan.
9.Sabar. Seorang pengajar harus berhias dengan kesabaran terhadap masalah-masalah pelajar dan pengajaran, karena sabar adalah penolong yang paling besar dalam amalnya yang mulia ini.
diringkas dari buku: “KIAT SUKSES MENDIDIK ANAK” 

karya Asy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu
penerbit Pustaka Al Haura

Wednesday, March 26, 2014
Posted by Darul Arqom

Kriya Anyam Karya Siswa

SDIT darul arqom ikut berpartisipasi dalam lomba bina kreativitas siswa 2014 yang diadakan oleh dispendik kota Surabaya. Dalam kegiatan ini, sekolah mengirimkan seorang siswa putra untuk mengikuti lomba seni kriya anyam. Ilham Azis Mubarok dari kelas 5 putra didaulat untuk mewakili sekolah dalam lomba ini. Pada kegiatan yang dilaksanakan pada 15 Maret 2014 ini, biidznillahi ta'ala, sekolah memperoleh posisi sebagai juara pertama. Alhamdulillah...

Proses pembuatan

Hasil karya




Saturday, March 22, 2014
Posted by Darul Arqom

Untaian Faidah Kajian Adabul Isyroh

Selepas Maghrib sampai adzan Isya , Ustadz Irfan hafidhohullah memberi kajian kitab Adabul Isyroh (Adab - adab Pergaulan) di masjid Darul Arqom.Melihat banyaknya faedah yang tersampaikan begitu berharga , maka kami merasa perlu menuliskan ringkasan faedah yang tersampaikan tadi.
Berikut ini faedah yang bisa kami tuliskan :
  1. Hendaknya kita menjadi insan yang selalu memenuhi janji kita kepada setiap orang yang pernah kita beri janji.Denganmemenuhi janji kita terhindar dari tasyabbuh bil munaafiq dan permusuhan antar kawan.
  2. Dalam memilih teman  hendaknya memilih teman yang berwibawa dan bisa membuatmu malu jika kamu berbuat yang tidak patut di hadapannya. Jika kita memilih teman yang kita tidak malu berbuat yang tidak patut di hadapannya  pertemanan ini tidak meningkatkan kadar kita.
  3. Ali karamallohu wajhah berkata : " Hidupkan rasa malu dengan bergaul bersama orang yang bisa membuat kamu malu darinya."
    Penyebutan karamallohu wajhah secara khusus pada gelar Ali bin Abi Thalib radhiyallahuanhu perlu ditinjau ulang karena tidak ada dalil khusus tentang itu.Bisa jadi pula penamaan ini datang dari syiah rafidhoh.
  4. Hendaknya dalam bersahabat harus didasari niat ikhlas.
  5. Keikhlasan dalam persahabatan diwujudkan dengan mengutamakan maslahat sahabatnya daripada menuruti semua kemauan sang sahabat.
  6. Umumnya, semakin dekat dan akrab hubungan akan semakin sungkan dalam melakukan nahi mungkar.
  7. Meninggalkan gangguan dan celaan orang bodoh pada kita.
  8. Di antara bentuk celaan dan omongan orang bodoh adalah mencela dan menjatuhkan ulama.
  9. Perkataan Rabi' bin Khutsaim rahimahullah : Manusia ada dua jenis.Pertama, orang mukmin yang tidak boleh diganggu. Yang kedua, orang bodoh yang tidak boleh diladeni.
  10. Termasuk adab dalam pergaulan adalah memberikan yang terbaik dari pergaulan kita pada sahabat kita.
  11. Di antara bentuk adab yang baik dalam berteman adalah mau menasehati dalam kebaikan dan memanggil dengan nama yang baik.
  12. 3 nasehat Umar bin Khattab radhiyallahuanhu dalam melanggengkan pergaulan : menebar salam , melapangkan tempat dalam majelis , dan memanggil temannya dengan panggilan yang baik.
  13. Bentuk panggilan yang baik adalah memanggil dengan kunyah (abu atau ummu).
  14. Hendaknya ahlu bid'ah jangan dipanggil dengan kunyah untuk menghinakan.
Itulah faidah - faidah yang bisa ana tulis dan sampaikan.Dalam taklim itu adalagi faedah terbesar yang ana dapatkan dalam pemandangan yang ana saksikan. Ustadz kami, Abdul Lathif hafidhohullah, ikut duduk di barisan mustami'in peserta taklim.Itu adalah kali kedua beliau duduk dalam barisan pendengar.Yang pertama adalah tatkala beliau ikut taklim ana membahas Riyadhush Sholihin hari Kamis. Padahal beliau adalah ustadz yang empat tahun belajar di Fyush, murid syaikh Abdurrahman Al Adeni hafidhohullah.Ini memberikan faedah bahwa kita dilarang gengsi dalam mengambil ilmu.Selama yang menyampaikan salafy yang manhajnya bagus dan mempunyai dasar dari ilmu yang dia sampaikan, kita ambil ilmunya walaupun mungkin kadar ilmu kita lebih tinggi dari dia. Barangkali ada faedah baru yang tidak kita dengar sebelumnya.Minimalnya,kita bisa dapat ketenangan duduk di majelis ilmi dan janji sholawat dari malaikat.

Wallahul muwaffiq ila sabiilil mustaqiim.

Akhukum,

Abu Mas'ud Jarot Al Majitaani
Thursday, March 20, 2014
Posted by Darul Arqom

Membangun Kembali Pesantren


Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pendidikan Musliar Kasim mengatakan kurikulum pendidikan sekolah dasar akan segera diubah menjadi hanya enam mata pelajaran sehingga tidak terlalu memberatkan pelajar. Alasannya siswa-siswa SD sangat terbebani dengan berbagai mata pelajaran yang cukup banyak, sehingga banyak kehilangan kesempatan untuk mengenal nilai-nilai lingkungan yang ada. (antaranews.com, 04/10/2012)

Psikiater Prof Dr dr LK Suryani SpKj berpandangan, dewasa ini terjadi kecenderungan semakin muda usia penderita sakit kejiwaan karena anak-anak tidak siap menerima beban pelajaran di sekolah. (republika.co.id, 13/09/2012)

Pembaca yang dirahmati Allah…

Masalah pendidikan di Indonesia seakan tidak ada habisnya. Acuannya adalah semakin tingginya kenakalan remaja hingga masih rendahnya kemampuan siswa dalam menghadapi masalah di lingkungan sekitarnya.
Kurikulum yang berganti tiap tahun seakan-akan hanya menambah jumlah pelajaran, tanpa menimbang aspek kejiwaan. Tingginya beban pelajaran ini tentu menimbulkan rasa jenuh dan tekanan yang tinggi bagi peserta didik. Sebagaimana dicantumkan pada awal tulisan ini, mulai ada fenomena mengerikan dimana anak-anak muda (bahkan usia SD) sudah mulai terkena gangguan kejiwaan akibat tingginya beban pelajaran di sekolah.
Melihat fenomena yang tidak sehat ini, beberapa kelompok masyarakat lalu berusaha membuat konsep pendidikan sendiri. Ada homeschooling, sekolah alam, dll. Kelompok masyarakat ini sadar, bahwa dalam hidup ini kecerdasan memang penting, namun kemampuan mengolah emosi dan interaksi sosial dalam masyarakat jauh lebih penting lagi.

Pesantren di Indonesia


Jauh sebelum Indonesia merdeka, masyarakat Indonesia sudah mengenal lembaga pendidikan yang bernama pesantren. Pesantren biasanya dipimpin oleh seorang tokoh kharismatik (kyai atau ustadz). Tokoh ini lalu dibantu oleh ustadz-ustadz lain mengajar dan mengelola pesantren. Santri-santri lalu tinggal di pondok-pondok asrama kecil di sekeliling masjid pesantren.

Pesantren kala itu benar-benar mengajarkan santrinya tentang kehidupan. Diajarkan bagaimana caranya bercocok tanam, memasak, hingga membangun pondok untuk tempat tinggal mereka sendiri selama belajar di pesantren.
Bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, pesantren juga berfungsi sebagai lembaga sosial. Mulai dari panen raya bersama petani sekitar, merawat orang yang sakit jiwa, hingga turut aktif dalam pertempuran melawan penjajah.

Karena perannya yang sangat besar itulah, pesantren masih eksis dan dibutuhkan masyarakat hingga saat ini. Justru dengan masalah-masalah yang timbul akibat sistem pendidikan kita sekarang, ada fenomena bahwa pesantren mulai banyak dilirik oleh para orang tua untuk menyekolahkan anaknya. Acuan dari fenomena ini adalah mulai menjamurnya pesantren-pesantren modern (boarding school) di kota-kota besar seperti Jadebotabek. Pesantren dianggap lebih bisa menghasilkan manusia yang baik budi pekertinya dan memiliki jiwa kepemimpinan yang unggul.
Citra buruk pesantren

Bagi mayoritas orang tua di Indonesia, pesantren saat ini masih dianggap sebagai lembaga pendidikan alternatif bagi putra-putri mereka. Pesantren baru mulai dilirik apabila putra-putri mereka tidak diterima di sekolah-sekolah reguler (bisa karena nilainya jelek, atau karena dikeluarkan akibat kenakalan). “Daripada nganggur nggak sekolah, mending pondokkan saja di pesantren”, begitu pikirnya. Karena pesantren memang memiliki peran bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, namun juga sebagai lembaga sosial. Sehingga pesantren pun pasti mau menerima siswa bermasalah tersebut. Akibat buruknya, beberapa pesantren malah dipenuhi dengan anak-anak bermasalah.


Kebanyakan pesantren juga memiliki fasilitas yang minim. Buruknya sanitasi dan gizi bagi santrinya, tentu membuat para orang tua berpikir berkali-kali untuk memondokkan anaknya. Sampai saat ini kebanyakan pesantren memang masih banyak dihuni oleh mereka-mereka yang kemampuan ekonominya pas-pasan. Kondisi ini diperparah dengan beberapa oknum pesantren yang dengan terang-terangan meminta sedekah dari pintu ke pintu. Semakin lengkap sudah citra pesantren sebagai lembaga miskin.

Tidak berhenti sampai situ. Tuduhan sebagai sarang teroris pun kerap ditujukan kepada pesantren. Hal ini timbul karena banyak teroris yang melakukan pengeboman di Indonesia ternyata alumni pondok-pondok pesantren. Ini membuat orang tua takut anaknya akan memiliki pemikiran menyimpang seperti teroris.
Namun diantara semua itu, citra pesantren yang paling sulit dihilangkan di masyarakat adalah masalah kurikulum pesantren yang dianggap tidak selaras dengan perkembangan zaman. Minimnya pelajaran umum, hingga wawasan santri yang kurang berkembang, dianggap membuat alumni pesantren tidak memiliki masa depan yang jelas.

Pentingnya Membangun Pesantren


Kita semua insyaAllah sudah mengetahui betapa pentingnya peran para dai sebagai pembimbing umat. Para dai adalah pemimpin yang diharapkan bisa menyelesaikan masalah-masalah kompleks yang menimpa kaum muslimin sekarang ini. Karena pentingnya peran mereka itulah diharapkan para dai adalah mereka-mereka yang unggul, cerdas, dan memiliki wawasan yang luas.
Namun hal itu tentu sulit diwujudkan apabila pesantren sebagai lembaga pencetak dai kondisinya masih jauh dari ideal. Kurangnya tenaga pengajar hingga minimnya fasilitas pesantren, tentu akan menghasilkan dai-dai yang kurang unggul.
Atau anda malah sebenarnya ingin memasukkan putra-putri anda ke pesantren. Namun anda melihat kenyataan pahit bahwa pesantren kondisinya jauh dari ideal. Sehingga anda tidak jadi memasukkan mereka ke pesantren dan malah memasukkan mereka ke sekolah biasa. Apakah anda ingin kondisi ini dibiarkan terus menerus?
Mari aktif membangun pesantren

Karena pentingnya peran pesantren itulah, sudah saatnya kita membangun kembali pesantren dan menjadikannya sebagai lembaga pendidikan utama bagi putra-putri kita kelak.

Kita bisa memberikan apa yang kita miliki bagi pesantren. Bagi anda para pegawai dan pengusaha yang dimudahkan rizkinya oleh Allah, bantulah pesantren dari sisi pendanaan. Anda mungkin selama ini tidak tahu bahwa dunia pesantren benar-benar membutuhkan bantuan anda untuk mengembangkan fasilitas pesantren. Hanya saja pihak pesantren sangat menjaga kemuliaan agama dalam diri mereka, sehingga mereka tidak bermudah-mudahan untuk meminta dana dari kaum muslimin. Kunjungi pesantren, anda lihat fasilitas apa yang bisa anda bantu. Bisa dari tambahan gizi bagi santri, hingga pembangunan infrastruktur pesantren.

Bagi anda para pemuda yang sudah mengenyam pendidikan tinggi. Tidakkah terpikirkan bagi anda untuk membagi ilmu yang anda miliki untuk pesantren? Pesantren saat ini membutuhkan tenaga pengajar untuk mengajarkan berbagai pengetahuan umum seperti kesehatan, kebersihan, surat menyurat, dll.
Bahkan dunia pesantren saat ini sangat membutuhkan anda untuk mengajar anak-anak. Anda bisa mengajarkan mereka pelajaran umum seperti berhitung, bahasa, dll. Anda juga bisa mengecek hapalan Quran mereka. Bukankah sekarang ini mulai banyak lembaga yang menyalurkan para sarjana untuk mengajar di daerah terpencil? Kenapa kita tidak berpikir sederhana untuk mengajar di pesantren di dekat kita? Bukankah pesantren juga sama membutuhkannya?
Dari Abu Hurairah z, Rasulullah n bersabda,
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” [HR. Muslim]
Memilih Pesantren

Namun kita juga harus berhati-hati. Tidak semua pesantren memiliki ajaran yang benar. Banyak pesantren di Indonesia yang justru mengajarkan klenik, ritual-ritual pengobatan gaib, ilmu kebal, dan lainnya yang justru bertentangan dengan syariat. 


Beberapa pesantren juga mengajarkan radikalisme, tindakan melawan pemerintahan kaum muslimin. Ini tentu juga pemikiran yang menyimpang. Kaum Syiah yang nyata-nyata dilarang di Indonesia pun sekarang sudah memiliki jaringan pesantren. 

Anda juga jangan memilih pesantren yang taat buta dengan kyai, ustadz, atau kelompok dakwahnya. Pesantren yang anda pilih haruslah yang ajarannya ilmiah, berlandaskan dalil-dalil Al Qur’an dan As Sunnah, berdasarkan pemahaman generasi awal umat ini.

Pesantren adalah Lembaga Pendidikan Utama


Kaum muslimin yang dirahmati Allah…
Pesantren sekarang mulai berbenah. Yang tadinya sama sekali tidak memasukkan materi pelajaran umum, sekarang mulai mengajarkannya. Yang tadinya tidak ada tingkatan kelas, sekarang mulai ada jenjang-jenjangnya. Menjadi tanggung jawab kita semua untuk menjadikan pesantren sebagai lembaga pendidikan islam yang ideal.
Sejarah telah membuktikan bahwa pesantren telah mampu mencetak pemimpin-pemimpin bagi umat ini. Sehingga, diharapkan bahwa pesantren kedepannya tidak hanya sebagai “bengkel” untuk mengurusi anak yang nakal, namun justru sebagai pengkaderan pemimpin yang berotak cerdas, yang memiliki ilmu agama yang baik dan benar, disertai wawasan yang luas.
Semoga Allah menjadikan putra-putri kita kelak bisa memimpin umat ini ke jalan yang ditempuh oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam dengan memberikan mereka fasilitas pendidikan yang sesuai dengan tuntunannya. (Ristyandani)

Dikutip dari Majalah Tasfiyah
Posted by Darul Arqom

Mengatasi Kehampaan Hidup


You Know What I Mean. Pingin ilmu lebih lengkap datang aja langsung ke TKP Masjid Darul Arqom , Perumahan Babatan Indah no 35 - 37 Wiyung Surabaya, hari Ahad,22 Jumadal Ula 1435 H/ 23 Maret 2014 pukul 09.00 - SELESAI
Wednesday, March 19, 2014
Posted by Saiful Islam

Google+ Badge

Followers

Lembaga Pendidikan Syar'i SDIT Darul Arqom. Powered by Blogger.

Copyright © SDIT DARUL ARQOM Surabaya | Design Editor by Saiful Islam