Mengatasi Kehampaan Hidup


You Know What I Mean. Pingin ilmu lebih lengkap datang aja langsung ke TKP Masjid Darul Arqom , Perumahan Babatan Indah no 35 - 37 Wiyung Surabaya, hari Ahad,22 Jumadal Ula 1435 H/ 23 Maret 2014 pukul 09.00 - SELESAI
Wednesday, March 19, 2014
Posted by Hawari

Mendulang Faedah dari Percikan Surat Luqman


Saudara kami karena Alloh,
Mayoritas orang tua tentunya menginginkan anak-anaknya kelak menjadi sosok manusia yang baik, taat, berbakti, dan semisalnya.
Sekian macam langkah dilakukan oleh para orang tua demi mewujudkan harapannya tersebut.
Bahkan, tidak sedikit pula yang sampai mengikuti seminar-seminar tentang pendidikan anak (baik seminar dgn pembicara Muslim maupun kafir).
Sebagai seorang Muslim yang beriman kepada Al Qur’an, walhamdulillaah, telah Allah Ta’ala berikan salah satu contoh nyata tentang bagaimana langkah-langkah di dalam pendidikan anak.
Dan hal ini secara khusus dan berurutan telah dijelaskan di dalam surat Luqmaan (surat ke 31), terkhusus mulai ayat 12 sampai ayat 19.
Hanya saja, kebanyakan dari kita sebagai seorang Muslim justru enggan atau bahkan acuh tak acuh terhadap pengajaran yang Allah Ta’ala berikan ini.
Sebagian dari kita justru lebih banyak mengoleksi buku-buku pendidikan anak yang notabene berasal dari hasil tulisan orang-orang kafir ataupun orang-orang yang tidak jelas keimanannya.
Lantas, mengapa justru kita tidak mengambil saja apa yang telah dijelaskan di dalam Al Qur’an ???
Tidakkah kita mau mengambil hikmah ini wahai Saudaraku ???
A.   Surat Luqmaan ini Allah Ta’ala awali dengan peringatan bagi umat manusia yaitu menerangkan bahwa Al Qur’an ini merupakan hikmah, petunjuk, dan rohmat bagi orang-orang yang muhsinin yaitu orang-orang yang berbuat amal-amal sholih.
Berikut ini ayatnya 1-5 :
سُوۡرَةُ لقمَان
بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
الٓمٓ
تِلۡكَ ءَايَـٰتُ ٱلۡكِتَـٰبِ ٱلۡحَكِيمِ
هُدً۬ى وَرَحۡمَةً۬ لِّلۡمُحۡسِنِينَ
ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَهُم بِٱلۡأَخِرَةِ هُمۡ يُوقِنُونَ
أُوْلَـٰٓٮِٕكَ عَلَىٰ هُدً۬ى مِّن رَّبِّهِمۡ‌ۖ وَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ
1.   Alif Laam Miim,
2.   Inilah ayat-ayat Al Quran yang mengandung hikmah,
3.   menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan,
4.   (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat.
5.   Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
B.   Kemudian, tatkala mengawali kisah tentang Luqman (beliau adalah seorang hamba Allah yang sholih_sebagian riwayat menyebutkan bahwa beliau adalah bekas budak dari Habasyi/Ethiopia) diceritakan bahwa hikmah yang awal kali Allah berikan kepadanya adalah perintah untuk senantiasa bersyukur kepada Allah Ta’ala yang merupakan Dzat yang telah memberikan segala macam kenikmatan kepada kita sejak kita masih berupa nuthfah di dalam rahim ibu kita.
Berikut ini ayatnya :
وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا لُقۡمَـٰنَ ٱلۡحِكۡمَةَ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِلَّهِۚ وَمَن يَشۡڪُرۡ فَإِنَّمَا يَشۡكُرُ لِنَفۡسِهِۦۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ حَمِيد
Ayat 12 : Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”
Dari ayat ini bisa pula diambil faedah bagi pasangan suami istri yang belum dikarunia anak untuk juga tetap senantiasa bersyukur kepada Allah Ta’ala. Di sini terdapat bentuk keindahan Al Qur’an. Ketika Allah akan menceritakan tentang pendidikan anak, maka diingatkan dulu agar manusia (para orang tua) untuk bersyukur kepada nikmat-2 Allah. Sehingga, tatkala ada orang tua yg belum dikaruniai anak oleh Allah membaca ayat ini, maka ia akan senantiasa ingat untuk bersyukur kepada nikmt-nikmat Allah yang lainnya sehingga ia tidak terjatuh ke dalam bentuk ketidakpuasan terhadap taqdir Allah kepadanya. Subhanallooh.
C.   Lalu, ketika Luqman Al Hakim ini mengajarkan perkara-perkara penting kepada anaknya, maka diawali dengan perintah untuk senantiasa mentauhidkan Allah dan tidak mensekutukanNya di dalam peribadatan apapun bentuknya. Dan kalau kita perhatikan susunan ayat-ayatnya, maka hal tersebut merupakan susunan urut-urutan yang diawali dengan perkara yang paling penting kepada perkara penting lainnya. Di sini juga terletak contoh keindahan bahasa Al Qur’an.
Berikut ini ayatnya :
وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَـٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُ ۥ يَـٰبُنَىَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ‌ۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٌ۬
Ayat 13 : Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.”
Dari ayat ini, kita ketahui pula bahwa da’wah yang pertama kali harus kita tanamkan kepada orang lain (termasuk anak-anak kita) adalah da’wah untuk mentauhidkan Allah dan memperingatkan manusia untuk tidak berbuat syirik kepada Allah Ta’ala.
Hal ini tentunya sangat jauh berbeda dengan sebagian kelompok da’wah yang mana mereka ada yang memulai da’wah mereka dengan perbaikan hati (jagalah hati), atau dengan dzikir jama’i, atau dengan shodaqoh, atau dengan perbaikan akhlaq, atau dengan perbaikan melalui jalur politik, atau perbaikan melalui jalur ekonomi, atau lainnya. Tidak kita pungkiri bahwa hal-hal ini adalah perkara penting yang juga diatur did alam Islam. Hanya saja, apakah demikian caranya di dalam memulai awal suatu da’wah ??? Berpikirlah wahai orang-orang yang berakal….
D.   Setelah Allah perintahkan untuk mentauhdikanNya, maka dilanjutkan dengan perkara berikutnya yaitu berbuat baik kepada orang tua meskipun orang tuanya adalah kafir/musyrik (hanya saja, perintah berbakti kepada orang tua terbatas pada hal-hal yang ma’ruf)
Beikut ini ayatnya :
وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَـٰنَ بِوَٲلِدَيۡهِ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُ ۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٍ۬ وَفِصَـٰلُهُ ۥ فِى عَامَيۡنِ أَنِ ٱشۡڪُرۡ لِى وَلِوَٲلِدَيۡكَ إِلَىَّ ٱلۡمَصِيرُ
وَإِن جَـٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِى مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌ۬ فَلَا تُطِعۡهُمَا‌ۖ وَصَاحِبۡهُمَا فِى ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفً۬ا‌ۖ وَٱتَّبِعۡ سَبِيلَ مَنۡ أَنَابَ إِلَىَّ‌ۚ ثُمَّ إِلَىَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَأُنَبِّئُڪُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ
Ayat 14: Dan Kami perintahkan kepada manusia (untuk berbuat baik) kepada kedua orang tua; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam waktu dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
Ayat 15: Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
Di dalam ayat ini terdapat faedah pula bahwa terhadap orang tua yang telah banyak memberikan kebaikan kepada anak, maka sudah sepantasnya untuk si anak tersebut membalas kebaikan orang tuanya dengan berbuat baik kepada orang tua sebagai wujud rasa syukur kepada Allah dan kedua orang tua. Semua manusia (baik yang Muslim maupun yang kafir) tentunya akan sepakat bahwa sudah sepatutnya bagi setiap anak untuk berbuat baik dan berbakti kepada orang tua. Lantas, apabila demikian keadaannya terhadap orang tua, maka tentunya sudah pasti seluruh manusia pun sudah sepatutnya untuk berbakti kepada Allah sebagai wujud rasa syukur kepada Allah yang telah melimpahkan kenikmatan-kenikmatan kepada seluruh makhluqNya melebihi apa yang telah diberikan orang tua terhadap anaknya. Oleh karena itu, tidakkah kalian menyadari hal ini wahai orang-orang yang berakal ???
Selanjutnya, di dalam ayat ini pula terdapat faedah bahwa perintah berbakti kepada orang tua hanyalah dalam perkara yang ma’ruf. Sehingga, apabila orang tua  ada yang memerintahkan kepada anaknya dalam perkara yang merupakan maksiat kepada Allah Ta’ala, maka tidak boleh bagi si anak untuk menta’atinya. Akan tetapi, tetap wajib bagi si anak untuk bergaul kepada orang tuanya di dunia ini dengan pergaulan yang baik.
Semisal dengan hal ini adalah bentuk keta’atan seorang rakyat kepada pemimpinnya. Semua rakyat wajib untuk menta’ati pemimpinnya yang Muslim dalam perkara yang ma’ruf. Apabila pemimpinnya memerintahkan kepada perkara yg merupakan maksiat kepada Allah, maka tidak boleh bagi rakyat untuk menta’atinya. Akan tetapi, tetap wajib bagi rakyat untuk bergaul dengan pemimpinnya di dunia ini dengan pergaulan yang baik yakni dengan tidak memberontak kepada pemimpinnya.
Hal ini tentunya pula bertentangan dengan sebagian kaum Muslimin yang demikian mudahnya memberontak kepada para pemimpin mereka hanya dikarenakan kekeliruan yang diperbuat oleh pemimpin mereka. Padahal, apabila diteliti lebih jauh, kekeliruan yang dilakukan tersebut tidaklah segampang itu disebut sebagai kekeliruan yang mengeluarkan pemimpin tadi dari keIslaman. Semoga Allah memperbaiki kondisi kaum Muslimin.
E.   Setelah perintah berbakti kepada orang tua, lalu diajarkan kepada anak untuk senantiasa memiliki rasa muroqobah (merasa selalu diawasi oleh Allah) karena salah satu sifat Allah adalah Al Lathiiful Khobiir (Maha Halus lagi Maha Mengetahui) . Karena, dengan munculnya sikap muroqobah terhadap seorang anak, maka hal ini merupakan fungsi kontrol yang paling baik bagi diri si anak tersebut meskipun ia dalam kondisi seorang diri di kegelapan malam.
Berikut ini ayatnya :
يَـٰبُنَىَّ إِنَّہَآ إِن تَكُ مِثۡقَالَ حَبَّةٍ۬ مِّنۡ خَرۡدَلٍ۬ فَتَكُن فِى صَخۡرَةٍ أَوۡ فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ أَوۡ فِى ٱلۡأَرۡضِ يَأۡتِ بِہَا ٱللَّهُ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ۬
Ayat 16 : (Luqman berkata): “Wahai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.
Dengan tertanamnya sikap ini dengan kokoh, maka si anak akan menjadi sosok yang akan senantiasa mawas diri baik ketika berada di sisi orang tua maupun ketika seorang diri. Oleh karena itulah, sebagian ‘ulama ada yg berkata secara makna : “apabila engkau seorang diri, maka janganlah engkau mengatakan “aku sedang sendirian”. Akan tetapi katakanlah: “aku sedang diawasi” “
Sehingga, tatkala si anak ingin melakukan perkara kejelekan sekecil apapun, maka ia akan mawas diri dan yakin bahwa bila ia melakukan kejelekan maka Allah kelak akan membalasnya dengan adzab yg pedih, yang pada akhirnya si anak tersebut tidak jadi untuk berbuat kejelekan. Dan demikian pula sebaliknya, bila ia berbuat kebajikan sekecil apapun, maka ia akan tetap semangat utk menambah kebajikannya karena ia yakin bahwa Allah akan membalasnya dengan surga yg penuh kenikmatan, meskipun seluruh manusia mencelanya.
F.   Kemudian, dilanjutkan dengan perintah untuk menuntut ilmu sebagai sarana untuk melakukan ibadah-ibadah secara benar serta bersabar di dalamnya..
Berikut ini ayatnya :
يَـٰبُنَىَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَٱنۡهَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَ‌ۖ إِنَّ ذَٲلِكَ مِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ
Ayat 17 : Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
Mungkin ada yang bertanya, dari mana bisa diambil faedah tentang perintah menuntut ilmu padahal ayat tersebut tidak secara tegas menyebutkannya??? Jawabannya, bahwa perintah pada ayat tersebut adalah mendirikan sholat (aqimishsholaah), dan memerintahkan kepada yg ma’ruf (wa’mur bil ma’ruuf), dan mencegah dari perkara yg mungkar (wa anha ‘anil munkar). Perintah mendirikan sholat berarti hanya sekedar melakukan sholat semata, akan tetapi melakukan sholat dengan benar dengan segala macam tatacaranya. Dan untuk bisa mendirikan sholat dengan benar, tentunya mau tidak mau harus mengetahui apa saja syarat-2nya, rukun-2nya, wajib-2nya, dan lainnya. Dan untuk mengetahui hal-hal tersebut, maka mau tidak mau pula maka harus melalui proses menuntut ilmu agama secara benar.
Demikian pula dengan amalan ibadah amar ma’ruf nahi munkar. Tentunya, tidaklah mungkin seseorang bisa beramar ma’ruf nahi munkar dengan tanpa modal ilmu. Oleh karena itulah, hendaknya orang tua semangat untuk memberikan dorongan menuntut ilmu bagi si anak dan juga dirinya sendiri.
Ironisnya, saat ini kita lihat betapa banyaknya umat Islam yang ahli di dalam perkara-perkara dunia akan tetapi terhadap tata cara wudhu’ dan sholat pun ia tidak mengetahuinya. Padahal, bisa jadi ia adalah seorang yang bergelar S1, S2, S3, Professor did alam ilmu-ilmu duniawi, akan tetapi sayangnya terhadap ilmu agamanya yang sehari-hari ia kerjakan pun ia tidak mengetahuinya. Walloohul Musta’an.
Selanjutnya, setelah seseorang telah mampu berilmu dan beramal kebaikan, maka hendaknya ia bersabar terhadap hal-hal yang akan menimpanya. Dinukil dari sebagian riwayat secara makna bahwa suatu saat Luqman berjalan menaiki keledai didampingi anaknya berjalan kaki memasuki pasar. Ketika dilihat oleh orang-orang di pasar, ada yang mencelanya mengatakan: “sungguh orang tua yg tidak tau diri. Mengapa ia biarkan anaknya berjalan kaki?” Kemudian, lalu Luqman turun dari keledainya dan menaikkan anaknya ke atas keledai dan melanjutkan perjalanannya. Ternyata ada lagi yang mencelanya seraya mengatakan: “sungguh anak yang tidak tau berbakti, mengapa ia tega membiarkan ayahnya berjalan kaki?”. Kemudian Luqman pun menaiki keledai bersama anaknya dan melanjutkan perjalannya. Ternyata, ada lagi orang yang mencelanya mengatakan: “sungguh teganya mereka, mengapa keledai yg kecil itu dinaiki oleh 2 orang?”. Kemudian, akhirnya Luqman dan anaknya pun turun dari keledai dan berjalan sambil menuntun keledainya. Ternyata, masih saja ada yang mencelanya seraya berkata: “sungguh bodoh mereka berdua, mengapa ia biarkan keledainya tidak dinaiki?”.
Walhasil, kemudian Luqman pun menasihati anaknya bahwa apapun yang dilakukan oleh seseorang dari perkara kebaikan, maka pasti akan ada orang-orang yang akan mencelanya. Sehingga hendaknya seseorang itu bersabar di dalam menjalani keta’atan kepada Allah. Oleh karena itulah di ayat 17 ini terdapat nasihat untuk bersabar terhadap apa yang kelak menimpa kita di dalam menjalani keta’atan. Dan bagi yang sudah belajar utsuluts tsalatsah nya karya Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rohimahullooh, maka sungguh hal ini sangat sesuai dengan kandungan ayat ini yakni ber’ilmu sebelum beramal, ber’amal, berda’wah (amar ma’ruf nahi munkar), kemudian bersabar di atasnya. Subhanallooh. Dengan demikian pula, sungguh telah keliru orang-orang yg menjelek-jelekkan Beliau dgn sebutan membuat aliran baru “wahhabi”. Tidakkah mereka mau berpikir dgn jernih ???
G.   Perintah selanjutnya adalah perintah untuk senantiasa bergaul dengan manusia dengan baik, atau dalam kata lain adalah perbaikan akhlaq dan adab.
Berikut ini ayatnya :
وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِى ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًا‌ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٍ۬ فَخُورٍ۬
وَٱقۡصِدۡ فِى مَشۡيِكَ وَٱغۡضُضۡ مِن صَوۡتِكَ‌ۚ إِنَّ أَنكَرَ ٱلۡأَصۡوَٲتِ لَصَوۡتُ ٱلۡحَمِيرِ
Ayat 18 : Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
Ayat 19 : Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.
Di dalam ayat ini terdapat beberapa contoh akhlaq dan adab yang luhur yaitu :
-     Senantiasa rendah hati kepada manusia
-     Bergaul dgn wajah yang baik terhadap manusia
-     Berjalan di muka bumi dengan cara yang baik dan tidak menyombongkan diri
-     Bersuara yang lunak di dalam berbicara
-     Tidak berbicara dengan suara yang keras atau berteriak-teriak
Wahai manusia, dengan sedikit saja penjelasan dari sedikit ayat di dalam Al Qur’an di atas, masihkah kalian menganggap Islam sebagai agama yang keras dan tidak beradab ???
Wahai kaum Muslimin, dengan sedikit saja penjelasan dan pengajaran dari sedikit ayat di dalam Al Qur’an di atas, masihkah kalian akan menoleh kepada sumber-sumber rujukan selain Islam ???
Berpikirlah wahai orang-orang yang memiliki akal…!!!
Semoga sedikit tulisan ini bermanfaat.
~ Ringkasan secara makna dari khutbah Jum’at  oleh Abu Mas'ud Abdurrahman Jarot di Masjid Darul Arqom Perumahan Babatan Indah Surabaya pada 16 Shofar 1432 H atau 21 Januari 2011 ~ ( dengan beberapa tambahan kata dari Akhuna Abu Hamzah Penta Satriya).
Tuesday, March 18, 2014
Posted by Unknown

Setan Itu Musuh Yang Nyata Bagimu


Selayang Pandang terhadap Tipu Daya Setan Bangsa Jin

Sesungguhnya merupakan amalan yang dituntut oleh tiap muslim bagi dirinya adalah menyadari bahwa setan adalah musuh yang mengintai setiap waktu. Allah Ta’ala menjadikan setan bangsa jin sebagai ujian yang pasti bagi hambaNya yang beriman.

Maka merupakan amalan yang mulia dengan mencurahkan kemampuan yang ada pada diri kita untuk menanggulangi berbagai bentuk gangguan yang ada, mulai tipu dayanya,was-was darinya, kesurupan,dan sejenisnya. Menyelamatkan setiap hambaNya yang beriman dari gangguan jin dan setan,terkhusus maker iblis la’natullah alaihi adalah amalan para rasul terdahulu.Dan ini pula termasuk salah satu tujuan mereka alaihimussholatu was salam diutus.

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata dalam Majmu Fatawa juz 19 /56-57:

“Yang demikian ini merupakan usaha yang afdhol dilakukan,dan merupakan amalan nabi–nabi terdahulu dan orang–orang sholihnya. Sesungguhnya para nabi dan orang–orang sholih senantiasa melawan setan dan menolaknya dari sekeliling bani Adam sesuai tuntunan Allah ta’ala dan RasulNya,”

Dan begitu banyaknya ayat Al Qur’an yang dating memperinci makar mereka–setan bangsa jin–satu persatu.Dan dating pula dari petunjuk nubuwwah rangkaian ucapan pilihan yang menerangkan bentuk maker dan cara penanggulangannya.

Maka dalam artikel ini maupun yang akan datang –insya Allah, penulis akan membawakan secara ringkas dan khusus mengenai was–was dan gangguan setan bangsa jin. Karena inilah yang umum terjadi dan jarang diketahui.

Berkata Syaikh Muhammad Al Imam dalam Muqodimah Kitab Inqodhul Muslimin:“Dikarenakan was–was dari setan bangsa jin itu benar benar ada. Gangguan iblis yang dalam bentuk samar(was–was) ini sulit bagi seseorang menyadarinya di awal waktu dan barulah mereka tahu setelah berefek lebih jauh dalam membahayakan diri mereka.”

Maka hendaknya,kita persiapkan diri kita untuk mengetahui makar musuh kita ini. Kita harus kenali bentuknya, sebabnya, karakteristiknya, penangkalnya, sekaligus mengetahui penawar dari gangguan akutnya.

Setan itu Seburuk buruknya Makhluk

Perlu kita ketahui bahwa manusia itu diciptakan dalam keadaan  yang mulia.

Allah Ta’ala berfirman:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ [٩٥:٤]

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tiin: 4)

Berfirman pula  Allah Ta’ala tentang kemuliaan bapak kita Adam alaihissalam:

وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ لَمْ يَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ [٧:١١]

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: "Bersujudlah kamu kepada Adam", maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud.” (QS. Al-A’raf: 11)

Dengan kemuliaan yang Allah berikan kepada manusia, Allah Ta’ala telah memberi bekal awal baginya untuk menangkal serangan setan, seburuk buruk makhluk.Belum lagi diutusnya para rasul merupakan nikmat yang Allah berikan untuk menolong manusia dari maker musuh–musuh Allah itu. Maka,bagaimana pendapat anda terhadap mereka yang masih terperdaya?

Mengenai hina dan buruknya setan bangsa jin,begitu banyaknya dalil yang menunjukkan jelek dan lemahnya mereka.Di antaranya :

1. Mereka adalah sumber kejahatan.

Allah berfirman dalam Al-falaq ayat 1-2:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ. مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

Katakanlah"Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya,”

Berkata Syaikh Muhammad Al Imam hafidzahullah tentang ayat ini:

“Telah menafsirkan para ulama tentang ayat ini bahwa yang dimaksud adalah Iblis dan anak cucunya.Ayat ini mengandung permintaan perlindungan pada semua kejelekan,dan semua kejelekan sumbernya adalah mereka pertama kalinya.” (Inqodhul Muslimin hal 10)

2. Mereka adalah pembangkang dan jauh dari kebaikan.

Allah berfirman :

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ [٢٠:١١٦]

Dan (ingatlah) ketika Kami berkata kepada malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam", maka mereka sujud kecuali iblis. Ia membangkang.” (QS. Thoha: 116).

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ [٢:٣٤]

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS. Al Baqarah: 34)

3. Iblis itu bodoh tetapi sombong

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ. قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَنْ تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ

Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah".

Allah berfirman: "Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina".

(QS. Al A’raf:12-13)

4. Iblis terlaknat hingga yaumul kiamat

Allah berkata kepada Iblis :

قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ. وَإِنَّ عَلَيْكَ اللَّعْنَةَ إِلَىٰ يَوْمِ

Allah berfirman: "Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk. Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat." (QS. Al Hijr: 34–35)

Maka dari itu, dengan keadaannya yang jelek, jahat, dan terkutuk inilah dia diberi Allah Ta’ala penangguhan waktu untuk mengerahkan anak turunnnya menyesatkan bani Adam.

Tipu Daya Setan itu Lemah

Wajib bagi kita waspada dan tidak gentar terhadap tipu daya setan bangsa jin. Serumit apapun tipu daya yang mereka buat, sungguh itu adalah sarang laba–laba yang mudah dikoyak bagi orang–orang yang dirahmati Allah. Maka ketahuilah, tipu daya setan itu lemah.Allah berfirman :

الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ ۖ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا [٤:٧٦]

“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” (QS. An Nisa: 76)

Kelemahannya jelas.Tipu daya mereka tidak akan ada hasilnya tanpa kehendak Allah.Was–was yang mereka berikan tidak membahayakan tanpa ijin Allah.Setan itu tidak berkuasa atas apapun.Jika seorang itu bertawakkal pada Allah ,meminta perlindungan pada Allah,setan tak bisa berbuat apa apa.

Rasulullah shalallahu alaihiwassalam bersabda :

“Apabila seseorang masuk ke rumahnya lalu ia berzikir kepada Allah saat masuknya dan ketika hendak menyantap makanannya, berkatalah setan, “Tidak ada tempat bermalam bagi kalian dan tidak ada makan malam.” Bila ia masuk rumah dalam keadaan tidak berzikir kepada Allah ketika masuknya, berkatalah setan, “Kalian mendapatkan tempat bermalam.” Bila ia tidak berzikir kepada Allah ketika makannya, berkatalah setan, “Kalian mendapatkan tempat bermalam sekaligus makan malam.” (HR. Muslim no. 5230)

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah :

“Maka sepatutnya bagi seorang hamba untuk tegar,sabar,dan selalu konsisten beramal dengan dzikir dan sholat.Jangan terlena.Karena dengan konsisten , akan dijauhkan dari perangkap setan.” (Majmu Fatawa juz 22/608)

Hikmah Gangguan Jin Kepada  Mukminin

Berkata Syaikh Muhammad Al Imam hafidzahullah:

“Allah ta’ala memiliki hikmah yang besar kaenapa harus ada gangguan setan terhadap kaum mukminin. Diantara hikmah itu ialah :

1. Diujinya kaum mukminin adalah untuk menunjukkan sisi kejelekan dan sisi kebaikan.

Allah Ta’ala berfirman :

مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَىٰ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّىٰ يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَجْتَبِي مِنْ رُسُلِهِ مَنْ يَشَاءُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۚ وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا فَلَكُمْ أَجْرٌ عَظِيمٌ [٣:١٧٩]

“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar.” (QS. Ali Imran: 179)

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah Ta’ala :

“ Maka jelas bahwa sesungguhnya sebagian hikmah daripada penciptaan musuh Allah ini adalah mengeluarkan penyusupan jiwa yang jelek,yang tersamar keadaan dirinya dan kejelekannya. Maka dengan ujian ini,jadilah ia nampak.Yang demikian ini seperti keluarnya percikan api disebabkan dengan meniup az zinad(semacam corong untuk meniup)…….”

2.Untuk menyempurnakan tahapan tahapan penghambaan kepada Allah, yang mana para nabi dan rasul berdakwah dengannya,dan pengikutnya yang berpegang teguh terhadap petunjuk yang mereka bawa.

Allah Ta’ala berfirman :

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.”  (QS. Ali Imran: 142)

Allah Ta’ala berfirman:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تُتْرَكُوا وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَلَمْ يَتَّخِذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَا رَسُولِهِ وَلَا الْمُؤْمِنِينَ وَلِيجَةً ۚ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ [٩:١٦]

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. At taubah: 16).

Maka tidak lengkap tahapan penghambaan ini kecuali dengan menguji mereka dengan musuh musuh Allah ini. Musuh–musuh Allah ini akan mengganggu dan memerangi mereka yang istiqomah. Maka mereka harus bersabar dan berjihad melawan musuh–musuh Allah ini serta mengutamakan pahala di sisi Allah.Maka dengan kesabaran dan kesungguhan akan sempurnalah tahapan penghambaan kepada Allah ini.

3. Kebanyakan sesuatu itu tidaklah terlihat keutamaannya kecuali dengan dinampakkan lawannya.Maka tidak nampak keutamaan kebaikan di atas kejelekan kecuali memunculkan kejelekan yang masih tersembunyi. Ini mencakup menampakkan kejelekan sepeti setan–setan jin dan setan bangsa manusia.

4. Menampakkan tanda–tanda keagungan Allah ta’ala. Di antaranya adalah pertolongan Allah kepada wali–waliNya dan penghancuran musuh–musuhnya.Maka dengan ini Nampak kekuasaannya dengan hancurnya musuh–musuh itu dan tertolongnya wali–wali Allah ta’ala.

Masih banyak hikmah lain dari penciptaan iblis dan tentaranya,yang tidak mencukupi dari pembahasan kami ini.”-sekian dari Syaikh Al Imam-ed

(Inqadul Muslimin halaman 12)

Demikian pembahasan ini semoga bermanfaat.Insya Allah penulis akan menyambung dengan seri ke 2 berjudul “Sebab–Sebab Setan Leluasa Menggoda Kaum Muslimin”.

Nas’alullaha al afiyah wa as salamah min waswasati sayaathinil jin.

Wallahu a’lam bish showwab


Akhukum fillah,
Abu Mas'ud Abdurrahman Jarot

Posted by Unknown

Berita Bestseller

Followers

Lembaga Pendidikan Syar'i SDIT Darul Arqom. Powered by Blogger.

Copyright © SDIT DARUL ARQOM Surabaya | Design Editor by Saiful Islam